Nasehat Buat CaMat = (calon mati).
Setiap yang bernyawa adalah "camat" (calon mati). Kematian merupakan sebuah kemestian yang harus siap dihadapi oleh setiap orang, karena kita ini adalah "camat" . Allah -Ta’ala- berfirman di dalam Al-Qur’an Al-Karim,
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan kematian (QS. Al Imran:185)
Ya, setiap yang berjiwa itu akan mati. Apakah kematian itu? apakah engkau pernah berpikir tentang "perusak segala kenikmatan"
dan segala misterinya? Apakah engkau merasa diperingatkan dan
dinasehati olehnya, ketika ia mengambil dan mencabut
kenikamatan-kenikmatan itu; ia melangkahimu untuk mendatangi orang lain
dan esok ia akan mendatangimu?
Jadi, semua orang akan mati; engkau telah melihat dan mendengarnya.
Orang yang bahagia adalah orang yang selalu mengambil peringatan dari
orang lain atau mungkin engkau lupa akan ungkapan populer: “Cukuplah kematian sebagai pemberi nasehat”.
Hendaklah engkau mempersiapkan dengan seluruh desah nafasmu,
sehingga engkau menjadi orang yang apabila berada di pagi hari, dia
tidak menunggu waktu sore; apabila berada di sore hari, dia tidak
menunggu waktu pagi. Namun ia akan beramal sholeh untuk mengisi setiap
jam yang sedang dijalaninya, sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Umar
ketika mendengar Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,
كُنْ فِيْ الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيْبٌ أَوْ آبِرُ سَبِيْلٍ
"Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau seorang pengembara".
Ibnu Umar-radhiyallahu ‘anhu- berkata,
"Apabila engkau berada di sore hari, maka janganlah menunggu waktu
pagi. Apabila kamu berada di pagi hari, maka janganlah menunggu waktu
sore. Pergunakanlah waktu sehatmu sebelum waktu sakitmu, dan masa
hidupmu sebelum matimu”.[HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya(6053), At-Tirmidziy dalam Sunan-nya (2333), Ibnu Hibban dalam Shohih-nya (698)]
Al-Hafizh Ibnu Rajab Al-Hambaliy-rahimahullah- berkata, Sesungguhya
seorang mukmin tidak sepantasnya untuk menjadikan dunia sebagai tempat
tinggalnya dan merasa tenang di dalamnya akan tetapi sepatutnya dia di
dalam dunia ini bagaikan orang yang sedang melakukan perjalanan.
Sungguh wasiat para nabi dan pengikutnya telah sepakat atas hal ini. [Lihat Jami’ul Ulum wal Hikam (hal. 379) ]
Wahai calon penghini kubur, apa yang menyebabkan terpedaya oleh
dunia? Tidak engkau mengetahui bahwa kamu akan meninggalkan duniamu dan
duniamu akan meninggalkanmu? Mana rumahmu yang megah, pakaianmu yang
indah, aroma wewangianmu, para pembantumu, dan keluagamu? Mana wajahmu
yang tampan, kulitmu yang halus? Bagaimana keadaanmu setelah tiga hari
di kubur? Saat itu tubuhmu telah ditumbuhi ulat dan cacing,
mengoyak kafanmu, menghapuskan warnamu, memakan dagingmu, masuk ke
dalam tulangmu, mencerai-beraikan anggota tubuhmu, merobek
sendi-sendimu, melelehkan biji matamu dan pipimu.
أَكْثِرُوْا ذِكْرَ هَاذَمُّ اللَّذَّاتِ يَعْنِيْ الْمَوْتُ
“Perbanyaklah kalian mengingat penghancur kenikmatan, yaitu kematian”.[HR. At-Tirmidziy (2307), An-Nasa’iy (1824), dan Ibnu Majah (4258). Di-shohih-kan oleh Al-Albaniy dalam Takhrij Al-Misykah (1607)]
Cukuplah kematian membuat hati besedih, menjadikan mata menangis,
perpisahan dengan orang-orang tercinta, penghilang segala kenikmatan
dunia, pemutus segala angan-angan. Wahai orang-orang yang berpaling
dari Allah, wahai orang yang tengah lengah dari ketaatan kepada
Rabbnya, wahai orang yang setiap kali ia dinasehati, hawa nafsunya
menolah nasihat ini, wahai orang yang dilalaikan oleh nafsunya dan
tertipu oleh angan-angan panjangnya, tahukah kamu apa yang akan terjadi
pada dirimu di saat kematianmu? Mungkin engkau bergumam dalam hati, “Saya akan mengucapkan la ilaha illallah”.
Belum tentu wahai saudaraku!! Jika engkau masih tetap lalai dan
berpaling dari Allah hingga tiba saat kematianmu, tentu engkau tidak
akan mengucapkannya, bahkan kamu akan berharap untuk dihidupkan
kembali.
Saudaraku, kemanakah engkau akan lari?? Apakah engkau akan mendaki
gunung yang tinggi, atau menyelami lautan yang dalam, ataukah
bersembunyi di benteng yang kokoh supaya dapat lolos dari intaian
Malaikat Maut? Wahai saudaraku…. Engkau tidak akan dapat melarikan diri
dari al-maut, sebab Rabb kita -Tabaraka wa ta’ala- berfirman,
أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكُكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ
"Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang Tinggi lagi kokoh" (QS. An-Nisa : 78)
Jika begitu, persiapkanlah dirimu dalam
menghadapinya. Perbanyaklah bekalmu, karena perjalanan kita masihlah
panjang. Janganlah engakau terlena dengan angan-angan yang kosong lagi
menipu. Mengharap umurmu masih panjang, ternyata
kematian sudah berada di ambang pintu. Janganlah engakau merasa cukup
dengan kebaikan yang ada pada dirimu dan merasa ujub dengannya, sebab
para salaf (pendahulu) kita dari kalangan para sahabat dan
orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik adalah orang-orang yang
paling banyak melakukan ibadah, ketaatan dan amal shalih. Namun ternyata mereka tidak begitu saja mengandalkan amal perbuatan mereka,
bahkan mereka senantiasa merasa khawatir jangan sampai apa yang mereka
lakukan itu masih belum diterima oleh Allah, sehingga terus merasa
kurang dalam beramal dan tak henti-hentinya memohon ampunan kepada
Allah.
Ibnu Syaudzab berkata, " Tatkala Abu Hurairah
berada di ambang kematian, tiba-tiba beliau menangis. Orang-orang
bertanya, "apa yang membuatmu menangis? Beliau menjawab : "jauhnya
perjalanan, sedikitnya perbekalan dan banyaknya rintangan yang
menghalang. Sementara saya tidak tahu akan dimasukkan ke neraka ataukah
ke surga". [Lihat Shifatush Shofwah (1/694) oleh Ibnul Jauziy]
Qabishah bin Qais Al Anbariy berkata, "Adh-Dhahhak
bin Muzahim apabila datang sore hari beliau menangis. Ada orang yang
bertanya, apa gerangan yang membuatmu menangis? Beliau menjawab,
لَا أَدْرِيْ مَا صَعُدَ الْيَوْمَ مِنْ عَمَلِيْ
"Aku tidak tahu, amalanku yang mana yang naik ke langit (diterima Allah) pada hari ini". [Lihat Shifatush Shofwah (17/150)]
Subhanallah !!! Sungguh pemandangan yang sangat
menakjubkan. Lihatlah diri kita dan bandingkan dengan mereka. Apa yang
telah kita kerjakan untuk mengisi hari ini? Berapa banyak hari yang
berlalu, berapa umur yang telah kita lewati? Namun sedikit di antara kita yang menghitung diri.
Bahkan kebanyakan dari kita membiarkan hari-harinya lewat, sedang dia
tenggelam di dalam lautan kelalaian dan gelombang panjang angan-angan.
Bertaubatlah sebelum datangnya hari yang telah dijanjikan dan kita berkata,
رَبَّنَا أَخِّرْنَا إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ نُجِبْ دَعْوَتَكَ وَنَتَّبِعِ الرُّسُلَ …
"Ya Tuhan kami, beri tangguhlah kami (kembalikanlah kami ke
dunia), walaupun sebentar saja. Niscaya kami akan mematuhi seruan
Engkau dan akan mengikuti Rasul-Rasul….". (QS. Ibrahim : 44)
Maka kita akan mendapatkan jawaban,
أَلَمْ تَكُنْ آَيَاتِي تُتْلَى عَلَيْكُمْ فَكُنْتُمْ بِهَا تُكَذِّبُونَ
"Bukankah ayat-ayatku telah dibacakan kepadamu sekalian, tetapi kamu selalu mendustakannya?" (QS. Al Mukminun :105)
Sungguh jika al-maut telah datang, maka ia tidak akan
menangguhkan kita untuk bertaubat. Dia tidak dapat diundur, walaupun
hanya sehari, sejam, bahkan sedetik pun.
Allah -Ta’ala- telah berfirman,
فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ
"Maka apabila telah tiba waktu (yang ditentukan) bagi mereka,
tidaklah mereka dapar mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak pula
memajukannya". (QS. An-Nahl :61)
Umar bin DzarAl-Kufiy berkata, "Wahai
pelaku kezhaliman! Sesungguhnya kamu sedang berada dalam masa
penangguhan yang kamu minta itu maka mamfaatkanlah sebelum akhir masa
itu tiba dan beresegeralah sebelum ia berlalu. Batas akhir penangguhan
adalah ketika kamu menemui ajal, saat sang maut datang ketika itu tidak
berguna lagi penyesalan". (HR. Abu Nu’aim Al-Ashbahaniy dalam Al Hilyah (5/115-116).
Suatu hal yang patut kita renungi adalah bekal kita untuk
menghadapi kematian ini. Seorang yang cerdik akan mempersiapkan
berbagai amalan yang dapat menyelamatkan dirinya dari huru-hara
kematian, dan padang mahsyar.
Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,
وَأَكْيَسُهُمْ أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَحْسَنُهُمْ لَهُ إِسْتِعْدَادًا أُولَئِكَ الْأَكْيَاسُ
"Mukmin yang paling cerdik adalah yang paling banyak mengingat
mati, dan paling baik persiapannya untuk mati. Itulah orang cerdik". [HR. Ibnu Majah dalam Sunan-nya (4259). Di-hasan-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (1384)]
Pernahkah kita mengitung diri atas apa yang telah kita ucapkan dan
kita perbuat? mari segera kita jawab sebulum datang waktunya bagi kita
untuk mengucapkan,
قالَ رَبِّ ارْجِعُونِ (99) لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ
“Ya Rabbku kembalikanlah aku ke dunia, agar aku berbuat amal yang shalih terhadap apa yang aku tinggalkan”
Kemudian kita dapat jawaban,
كَلَّا إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ
“Sekali-sekali tidak sesungguhnya itu adalah perkataan yang
diucapkan saja dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka
dibangkitkan” (QS. Al Mu’minun:99-100)
Saudaraku, janganlah engkau merasa aman ketika menuju
pembaringanmu. Boleh jadi dia adalah tidur terakhirmu di dunia; engkau
tidak bangun lagi setelahnya, dan ketika bangun tahu-tahu engkau telah
berada di dalam kubur. Selayaknya kita bersiap-siap selagi masih berada
di dunia ini. Siapkanlah bekal aqidah, iman, ibadah, dan akhlaq yang baik,
didasari ilmu wahyu dari Al-Qur’an, dan sunnah. Itulah yang akan
mempermudah jawan kita di alam kubur, dan padang mahsyar. Semoga Allah
-Ta’ala- menolong kita untuk selalu berzikir mengingat-Nya, bersyukur
kepada-Nya, dan memperbaiki ibadah hanya kepada-Nya.
Wahai saudaraku, perhatikanlah matahari yang terbit dan tenggelam.
Sudahkah engakau renungkan hari yang kau lalaikan? Tanyakanlah, apa
yang sudah engkau persembahkan untuk menyambut hari yang tidak
bermamfaat harta dan anak-anak? Amat banyak manusia yang tidak memiliki
perhatian terhadap berlalunya waktu, padahal nafasmu wahai anak Adam
sesuatu yang dihitung dan tertulis.
Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,
لَا تَزُوْلُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى
يُسْئَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيْمَ أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيْمَ فَعَلَ
وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيْمَ أَنْفَقَهُ وَعَنْ
جِسْمِهِ فِيْمَ أَبْلَأَ
"Tak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat
sampai ia ditanyai tentang umurnya dimana ia habiskan; tentang ilmunya
dalam perkara apa ia gunakan; hartanya dari mana ia perolehm dan kemana
ia infaqkan; dan tentang jasadnya dimana ia gunakan". [HR. At-Tirmidziy dalam Sunan-nya (2417),Ad-Darimiy dalam Sunan-nya (537), dan Ath-Thobroniy dalam Al-Kabir (111). Di-shohih-kan Al-Albaniy dalam Shohih At-Targhib (126)]
فَلَوْ أَنَّا إِذَا مِتْنَا تُرِكْنَا لَكَانَ الْمَوْتُ رَاحَةَ كُلِّ حَيٍّ
وَلَكِنَّا إِذَا مِتْنَا بُعِثْنَا وَنُسْأَلُ بَعْدَهُ عَنْ كُلِّ شَئٍ
Jikalau seandainya kita mati kita dibiarkan begitu saja
sungguh kematian adalah perkara yang menyenangkan,
akan tetapi apabila kita mati, kita akan dibangkitkan
dan akan ditanya tentang segala sesuatu
wahai jiwa yang lalai mengingat kematian…….
sebentar lagi engkau akan dikubur bersama mayat-mayat
maka ingatlah tempatmu sebelum engkau menempatinya
dan bertaubatlah kepada Allah dari sendagurau dan kesengan
sesungguhnya kematian itu ada waktunya
maka ingatlah musibah-musibah yang menimpa hari-harimu
janganlah engkau tenang dengan dunia serta hiasannya
karena semua itu tidak akan dibawa mati
Sumber : Buletin Jum’at Al-Atsariyyah edisi 28
Tahun I. Penerbit : Pustaka Ibnu Abbas. Alamat : Pesantren Tanwirus
Sunnah, Jl. Bonto Te’ne No. 58, Kel. Borong Loe, Kec. Bonto Marannu,
Gowa-Sulsel. HP : 08124173512 (a/n Ust. Abu Fa’izah). Pimpinan
Redaksi/Penanggung Jawab : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc.
Dewan Redaksi : Santri Ma’had Tanwirus Sunnah – Gowa. Editor/Pengasuh :
Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Layout : Abu Muhammad
Mulyadi. Untuk berlangganan/pemesanan hubungi : Ilham Al-Atsary
(085255974201). (infaq Rp. 200,-/exp)